Lima Puluh Kota — Setiap April, bangsa ini mengenang Raden Ajeng Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan. Namun semangat itu sejatinya tak pernah pergi. ia hanya berubah bentuk, menyesuaikan zaman.
Di Kabupaten Lima Puluh Kota, semangat itu menjelma dalam sosok Siska.
Bukan lewat pidato panjang atau program besar, anggota DPRD dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini memilih cara yang sederhana bahkan tak biasa: membagikan pakaian dalam kepada warga.
Sekilas terdengar sepele. Namun bagi warga seperti Dona di Jorong Koto Tangah, serta Nova dan Akmal Rustam di Jorong Balai Batu Balang, bantuan itu justru menyentuh hal paling mendasar yang selama ini luput dari perhatian.
Kisah ini bermula dari gaji pertama Siska sebagai wakil rakyat. Alih-alih merayakannya, ia memilih membelanjakan penghasilannya untuk membeli pakaian dalam, lalu membagikannya langsung ke masyarakat.

Dalam kunjungan ke berbagai kampung, ia menemukan fakta yang jarang dibicarakan: masih banyak warga menggunakan pakaian dalam yang sudah tidak layak. Bahkan, ada yang terpaksa saling berbagi karena keterbatasan ekonomi.
Dari situ, ia melihat sesuatu yang sering diabaikan bahwa kebutuhan dasar bukan hanya soal makan dan tempat tinggal, tetapi juga soal martabat.
“Ini soal martabat,” menjadi prinsip yang ia pegang.
Sejak sebelum menjabat, Siska sudah melakukan hal ini secara konsisten dengan dana pribadi. Tanpa sorotan, tanpa seremoni.
Langkahnya mungkin tak lazim. Bahkan sempat memicu tanda tanya. Namun di situlah letak pesannya: kepedulian sejati lahir dari kepekaan terhadap hal-hal kecil yang sering diabaikan.
Di tengah politik yang kerap dipenuhi janji besar, apa yang dilakukan Siska justru terasa lebih nyata. Ia hadir, melihat langsung, dan menjawab kebutuhan masyarakat sekecil apa pun itu.
Dari sudut-sudut nagari di Lima Puluh Kota, kisah ini mengingatkan kita: semangat Kartini tidak selalu hadir dalam bentuk megah.
Kadang, ia hidup dalam tindakan sederhana yang mungkin tak ramai dibicarakan, tapi sangat dalam dirasakan.
Dan di bulan April ini, semangat itu kembali menemukan jalannya melalui seorang perempuan yang memilih bertindak, bukan sekadar berbicara. (rio)









