PAYAKUMBUH — Di tengah euforia persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat XVI tahun 2026, ada satu pertanyaan yang mulai ramai dibicarakan insan olahraga dan masyarakat Payakumbuh: mengapa Kota Payakumbuh tidak mengambil peran sebagai tuan rumah cabang olahraga?
Padahal, selama bertahun-tahun Payakumbuh dikenal sebagai salah satu kota olahraga di Sumatera Barat. Dari arena bela diri, atletik, sepak bola hingga berbagai cabang prestasi lainnya, nama Payakumbuh kerap menjadi pemasok atlet andalan Sumbar di level nasional.
Namun ketika KONI Sumbar menetapkan sistem tuan rumah bersama untuk Porprov 2026, nama Payakumbuh justru tidak terdengar sebagai penyelenggara cabang olahraga. Sebaliknya, sejumlah daerah lain berlomba-lomba menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah karena melihat Porprov bukan hanya ajang olahraga, tetapi juga momentum ekonomi dan promosi daerah.
Data KONI Sumbar menunjukkan hanya daerah yang menyatakan komitmen resmi dan memenuhi syarat administrasi serta kesiapan venue yang ditetapkan sebagai tuan rumah. Sebanyak tujuh daerah dipastikan tidak menjadi penyelenggara pertandingan dan hanya mengirimkan atlet.
Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar. Apakah Payakumbuh tidak mengajukan diri? Apakah terkendala anggaran? Atau memang tidak ada keberanian mengambil peluang besar tersebut?
Yang lebih menyedihkan, Porprov selama ini menjadi kesempatan emas untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Ribuan atlet, pelatih, ofisial dan keluarga atlet biasanya datang ke daerah tuan rumah. Hotel, rumah makan, UMKM hingga sektor transportasi ikut merasakan dampaknya. Daerah lain berebut kesempatan itu, sementara Payakumbuh justru hanya menjadi penonton.
Ironisnya lagi, Payakumbuh selama ini sering menggaungkan diri sebagai kota yang peduli olahraga. Berbagai fasilitas olahraga dibangun menggunakan uang rakyat. Namun ketika kesempatan menjadi pusat perhatian olahraga Sumbar datang, kota ini justru tidak berada di garis depan.
Banyak pelaku olahraga mulai mempertanyakan arah kebijakan pembinaan olahraga daerah. Sebab menjadi tuan rumah bukan semata soal gengsi, tetapi menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam mendukung ekosistem olahraga secara menyeluruh.
“Kalau daerah lain siap membuka pintu untuk atlet Sumbar bertanding, mengapa Payakumbuh tidak?” menjadi pertanyaan yang kini mulai bergema di kalangan pecinta olahraga.
Di sisi lain, belum ada penjelasan resmi yang gamblang dari pihak terkait mengenai alasan absennya Payakumbuh sebagai tuan rumah cabor Porprov 2026. Karena itu publik berhak mendapat jawaban.
Apakah ini persoalan anggaran?
Apakah fasilitas olahraga yang selama ini dibanggakan ternyata belum layak?
Atau ada persoalan koordinasi antara pemerintah daerah dan organisasi olahraga?
Satu hal yang pasti, absennya Payakumbuh sebagai tuan rumah meninggalkan rasa kecewa bagi banyak insan olahraga. Kota yang selama ini melahirkan atlet-atlet berprestasi kini hanya akan datang sebagai peserta, bukan sebagai penyelenggara.
Dan bagi sebagian masyarakat, itu bukan sekadar kehilangan sebuah event olahraga, tetapi kehilangan kesempatan menunjukkan bahwa Payakumbuh masih pantas disebut sebagai salah satu kota olahraga terbaik di Sumatera Barat.(rio)









