Payakumbuh — Di tengah peringatan Hari Kartini yang kerap dirayakan dengan seremoni dan simbol kebaya, sosok Hj. Hurisna Jamhur, S.Pd. justru menghadirkan makna yang lebih substansial. Wakil Ketua DPRD Kota Payakumbuh dari Fraksi Partai NasDem ini tampil sebagai representasi nyata perempuan tangguh yang tidak hanya hadir di ruang publik, tetapi juga berani mengambil peran strategis dalam menentukan arah kebijakan.
Di tengah dominasi laki-laki dalam dunia politik lokal, Hurisna berdiri bukan sekadar sebagai pelengkap. Ia menjadi aktor utama menyuarakan kepentingan rakyat, memperjuangkan isu-isu perempuan, serta memastikan bahwa kebijakan yang lahir dari gedung dewan tidak buta terhadap realitas sosial di akar rumput.
“Perempuan hari ini tidak cukup hanya dikenang perjuangannya, tetapi harus melanjutkannya dengan tindakan nyata,” tegas Hurisna dalam momentum peringatan Hari Kartini, Senin (21/4/2026).
Sosoknya mencerminkan semangat Raden Ajeng Kartini yang dahulu memperjuangkan kesetaraan di tengah kungkungan budaya patriarki. Namun, di era modern ini, tantangannya tidak lagi soal akses pendidikan semata, melainkan bagaimana perempuan mampu menembus ruang-ruang pengambilan keputusan dan tetap menjaga integritas di tengah tekanan politik.
Sebagai pimpinan DPRD, Hurisna dikenal vokal dalam mendorong transparansi dan keberpihakan terhadap masyarakat kecil. Ia tak segan mengkritik kebijakan yang dinilai tidak berpihak, bahkan jika itu datang dari lingkar kekuasaan sendiri. Baginya, jabatan bukan sekadar posisi, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Di balik sikap tegasnya, Hurisna juga aktif mendorong pemberdayaan perempuan di Payakumbuh mulai dari sektor pendidikan, ekonomi keluarga, hingga perlindungan terhadap perempuan dan anak. Ia percaya bahwa kekuatan daerah tidak akan pernah utuh tanpa keterlibatan aktif perempuan.
Namun, jalan yang ditempuhnya bukan tanpa rintangan. Stereotip, tekanan politik, hingga ekspektasi ganda sebagai perempuan dan pejabat publik menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari. Meski demikian, Hurisna memilih untuk tidak tunduk.
“Kalau perempuan terus menunggu kesempatan, maka ruang itu tidak akan pernah benar-benar terbuka. Kita harus mengambilnya,” ujarnya.
Peringatan Hari Kartini tahun ini seolah menjadi refleksi: bahwa perjuangan Kartini belum selesai. Di Payakumbuh, nama Hj. Hurisna Jamhur menjadi salah satu bukti bahwa semangat itu masih hidup tidak hanya dalam kata, tetapi dalam kerja nyata yang berdampak.
Di tengah hiruk-pikuk politik lokal, Hurisna mengirim pesan tegas: perempuan bukan lagi objek pembangunan, melainkan subjek utama yang menentukan arah masa depan.(rio)









