Lima Puluh Kota — Pohon pisang yang berdiri di tengah jalan bukanlah bagian dari penghijauan. Itu adalah simbol kekecewaan warga terhadap lambannya penanganan jalan rusak yang hingga kini belum kunjung diperbaiki.
Pemandangan tersebut terlihat di Nagari Koto Tangah Simalanggang, Kecamatan Payakumbuh, Jumat (31/7/2026). Warga menanam pohon pisang di tengah ruas jalan yang dipenuhi lubang sebagai penanda bahaya sekaligus bentuk protes agar pemerintah segera bertindak.
Bagi masyarakat, aksi itu merupakan sinyal bahwa keluhan yang selama ini disampaikan dinilai belum membuahkan hasil. Jalan yang menjadi akses utama aktivitas warga itu telah lama rusak. Lubang-lubang mengancam keselamatan pengguna jalan, merusak kendaraan, dan semakin berbahaya saat hujan karena tertutup genangan air.
Ironisnya, di tengah berbagai agenda pembangunan yang terus digaungkan, persoalan infrastruktur dasar justru masih menjadi pekerjaan rumah. Jalan yang layak bukanlah kemewahan, melainkan hak masyarakat yang semestinya menjadi prioritas pemerintah daerah.
Kini sorotan publik pun mengarah kepada Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota. Masyarakat menanti langkah nyata, bukan sekadar janji atau peninjauan lapangan. Sebab, setiap hari jalan itu tetap dilalui warga yang mempertaruhkan keselamatan mereka.
Pohon pisang di tengah jalan adalah pesan yang sulit diabaikan. Jika warga sudah harus membuat “rambu darurat” sendiri, maka hal itu menjadi alarm keras bahwa pelayanan terhadap kebutuhan dasar masyarakat perlu mendapat perhatian lebih serius.
Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan permanen agar jalan kembali aman digunakan. Sebelum muncul korban akibat kondisi tersebut, langkah cepat dan nyata menjadi harapan yang terus disuarakan masyarakat.(rio)









