Kemerdekaan Bukan Sekadar Upacara, Tapi Tanggung Jawab Menjaga Masa Depan Bangsa

- Editor

Minggu, 16 Agustus 2026 - 21:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lima Puluh Kota, 17 Agustus 2026 Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia hendaknya tidak berhenti pada upacara, pengibaran bendera, maupun rangkaian seremoni tahunan. Kemerdekaan harus menjadi momentum untuk bertanya lebih dalam: apa yang sudah kita lakukan untuk memastikan generasi bangsa tidak hanya mewarisi kemerdekaan, tetapi juga memiliki masa depan yang layak?

Pesan itu menjadi bagian dari refleksi Ajisman, Dt. Majo Kayo, Anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota dari Fraksi Partai NasDem, dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurutnya, tantangan bangsa hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk penjajahan seperti masa lalu. Tantangan itu bisa muncul dalam bentuk kemiskinan, ketimpangan kesempatan, pendidikan yang belum merata, sulitnya lapangan pekerjaan, serta lunturnya kepedulian generasi muda terhadap lingkungan sosialnya.

“Dulu para pejuang mempertaruhkan nyawa untuk merebut kemerdekaan. Hari ini tugas kita adalah memastikan kemerdekaan itu benar-benar dirasakan rakyat, terutama oleh generasi muda,” ujar Ajisman, Dt. Majo Kayo.

Ia menegaskan, generasi muda tidak boleh hanya dijadikan objek pembangunan. Mereka harus diberi ruang untuk menjadi pelaku perubahan.

Kemajuan teknologi, menurutnya, harus diimbangi dengan karakter, pendidikan, keterampilan, dan rasa tanggung jawab. Jangan sampai generasi bangsa memiliki akses terhadap teknologi yang begitu luas, tetapi kehilangan arah dalam menentukan masa depannya.

Baca Juga :  Tanah Hibah Warga Jadi Kunci, Nagari Ampalu Siap Bangun Gerai Koperasi Desa Merah Putih, Jembatan Lapuk Diusulkan Segera Diganti

“Anak-anak muda kita jangan hanya diwarisi slogan tentang Indonesia maju. Mereka harus diwarisi pendidikan yang baik, kesempatan bekerja, lingkungan yang sehat, serta pemerintahan yang benar-benar hadir ketika masyarakat membutuhkan,” tegasnya.

Di tengah berbagai persoalan masyarakat, ia juga mengingatkan agar semangat gotong royong tidak semakin terkikis oleh kepentingan pribadi.

Kemerdekaan, katanya, tidak akan memiliki makna apabila masih ada masyarakat yang merasa sendirian menghadapi persoalan hidup.

Karena itu, pembangunan harus berangkat dari kebutuhan rakyat. Pemerintah dan wakil rakyat harus berani mendengar suara masyarakat, termasuk suara yang mungkin tidak nyaman untuk didengar.

“Kritik masyarakat jangan dianggap sebagai ancaman. Kritik adalah pengingat agar kekuasaan tidak berjalan terlalu jauh meninggalkan rakyat,” katanya.

Bagi Ajisman, Dt. Majo Kayo, semangat kemerdekaan juga harus tumbuh dari daerah. Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki kekayaan budaya, tradisi, sumber daya manusia, dan semangat masyarakat yang merupakan modal besar untuk membangun masa depan.

Baca Juga :  Rumah Permanen di Nan Kodok Hangus Dilalap SiJago Merah

Nilai-nilai Minangkabau seperti gotong royong, musyawarah, marwah, dan kepedulian terhadap anak kemenakan harus tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak menjadi generasi yang hanya menunggu perubahan.

“Jangan bertanya apa yang sudah diberikan bangsa kepada kita. Mari bertanya apa yang bisa kita berikan kepada bangsa dan daerah ini,” pesannya.

Pada usia 81 tahun Indonesia merdeka, tantangan terbesar bukan sekadar mempertahankan kemerdekaan dari ancaman luar, tetapi memastikan kemerdekaan hadir dalam kehidupan sehari-hari rakyat.

Sebab, kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya ketika bendera Merah Putih berkibar di tiang tertinggi.

Kemerdekaan adalah ketika anak petani berani bermimpi menjadi orang besar, anak desa memperoleh pendidikan yang berkualitas, anak muda mendapatkan kesempatan bekerja, masyarakat kecil mendapatkan keadilan, dan setiap warga merasa bahwa negara benar-benar miliknya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Mari merawat kemerdekaan dengan kerja nyata, menjaga persatuan dengan kepedulian, dan menyiapkan masa depan dengan keberanian.

Indonesia maju tidak boleh hanya menjadi cita-cita. Ia harus menjadi kenyataan yang dirasakan sampai ke pelosok negeri.(rio)

Berita Terkait

Hari Santri Nasional 2026, Bisron Hadi: Ilmu dan Integritas Jadi Fondasi Generasi Masa Depan
Dari India ke Danantara, Petani Gambir Masih Menunggu: Jangan-Jangan Cuma Jalan-Jalan Berbungkus Perjuangan!
Ferizal Ridwan Pimpin PERSIS Lima Puluh Kota 2026–2030, Perkuat Konsolidasi Dakwah dan Sosial
KORPRI Kabupaten Lima Puluh Kota Peduli Bencana Kabut Asap, Bagikan Masker Gratis Bersama BPBD, TNI dan POLRI.
Cegah Kenakalan Remaja dan Narkoba, Kapolres 50 Kota Bangun Sinergi dengan Dunia Pendidikan
Tragedi Puncak Robo dan Alarm Keras bagi Pemkab Limapuluh Kota: Pariwisata Bukan Sekadar Promosi
Kabut Asap Kian Pekat, Dodi Arestu Desak Pemkab Lima Puluh Kota Pertimbangkan Sekolah Daring
Aulia Efendi Ajak Masyarakat Rawat Lingkungan, Gerakan Tanam Pohon Digelar di Tigo Selo Harau

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:25 WIB

Hari Santri Nasional 2026, Bisron Hadi: Ilmu dan Integritas Jadi Fondasi Generasi Masa Depan

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Ferizal Ridwan Pimpin PERSIS Lima Puluh Kota 2026–2030, Perkuat Konsolidasi Dakwah dan Sosial

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:03 WIB

KORPRI Kabupaten Lima Puluh Kota Peduli Bencana Kabut Asap, Bagikan Masker Gratis Bersama BPBD, TNI dan POLRI.

Senin, 19 Oktober 2026 - 12:34 WIB

Cegah Kenakalan Remaja dan Narkoba, Kapolres 50 Kota Bangun Sinergi dengan Dunia Pendidikan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 16:11 WIB

Tragedi Puncak Robo dan Alarm Keras bagi Pemkab Limapuluh Kota: Pariwisata Bukan Sekadar Promosi

Berita Terbaru

PAYAKUMBUH

Afviandi Gaungkan Semangat Santri: Jaga Persatuan, Bangun Negeri

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:02 WIB