LIMA PULUH KOTA — Perjalanan Bupati Safni ke India yang sebelumnya diharapkan membuka peluang bagi komoditas gambir, kini kembali menjadi sorotan setelah pemerintah daerah melakukan pertemuan dengan pihak Danantara di Jakarta. Masyarakat pun mempertanyakan sejauh mana rangkaian upaya tersebut membuahkan hasil nyata bagi petani gambir.
Dalam pertemuan bersama Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, di Wisma Danantara, Selasa (20/10/2026), Bupati Safni menyampaikan potensi produksi gambir Lima Puluh Kota yang diperkirakan mencapai 18.000 ton per tahun. Pertemuan itu menghasilkan arahan agar PT Perkebunan Nusantara (PTPN) turun langsung ke daerah untuk membahas pembenahan sektor gambir dari hulu hingga hilir.
Rencana tersebut diharapkan menjadi langkah konkret untuk memperkuat pengolahan dan pemasaran gambir. Namun, publik menilai hasil akhirnya tetap harus diukur dari manfaat yang dirasakan petani, bukan sekadar pertemuan dan pernyataan optimistis.
“Alah pai pulo ka India, indak juo jaleh hasilnyo. Kini Danantara pulo lai. Mudah-mudahan sajo indak jadi harapan hampa,” ujar seorang warga dengan nada menyindir.
(Sudah pergi pula ke India, belum juga jelas hasilnya. Kini Danantara pula. Mudah-mudahan saja kali ini tidak kembali menjadi harapan hampa.)
Komentar tersebut mencerminkan pertanyaan yang perlu dijawab pemerintah daerah: apa hasil konkret perjalanan ke India, dan bagaimana tindak lanjutnya hingga saat ini?
Jika perjalanan dinas menggunakan anggaran publik, masyarakat berhak mengetahui tujuan, hasil, serta manfaat yang diperoleh. Transparansi diperlukan agar setiap agenda pemerintah dapat dievaluasi secara objektif dan tidak berhenti pada pemberitaan.
Dengan ribuan pelaku usaha yang bergantung pada gambir, persoalan ini menyangkut mata pencaharian masyarakat. Petani membutuhkan kepastian pasar, harga yang lebih baik, akses pengolahan, serta rantai perdagangan yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah tersebut.
Karena itu, rencana pelibatan PTPN perlu ditindaklanjuti dengan target yang jelas, jadwal pelaksanaan, dan perkembangan yang dapat dipantau publik. Pemerintah juga perlu menjelaskan capaian maupun kendala dari upaya sebelumnya agar masyarakat tidak terus menunggu tanpa kepastian.
Kini, setelah India dan Danantara, masyarakat menunggu pembuktian. Apakah langkah ini akan membawa perubahan nyata bagi petani gambir Lima Puluh Kota, atau kembali menjadi rencana yang belum terwujud?
Sebab, keberhasilan perjuangan gambir bukan diukur dari jauhnya perjalanan atau banyaknya pertemuan, melainkan dari hasil yang benar-benar dirasakan petani.(rio)









