Kaldera Ijen Purba: Rumah Ribuan Warga di Wajan Raksasa

- Editor

Rabu, 13 Agustus 2025 - 10:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bondowoso || Di jantung Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, terkuak sebuah realitas geologi yang mencengangkan: ribuan penduduk di Kecamatan Ijen ternyata menempati sebuah area yang oleh masyarakat setempat digambarkan sebagai “wajan raksasa” peninggalan zaman purba. Secara ilmiah, mereka sejatinya hidup di dalam dan di sekitar Kaldera Gunung Ijen Purba, sebuah cekungan vulkanik raksasa yang terbentuk dari peristiwa geologi dahsyat ribuan tahun silam.

Wilayah ini bukan sekadar dataran biasa; ribuan jiwa tersebut menempati bagian “perut di tengah wajan,” sebuah zona inti dari gunung berapi purba yang kini masih menyimpan aktivitas vulkanik di dalamnya melalui keberadaan Gunung Ijen modern.

Metafora “wajan raksasa” yang populer di kalangan masyarakat setempat, sejatinya merujuk pada Kaldera Gunung Ijen Purba, sebuah depresi geologi luas yang terbentuk dari runtuhnya puncak gunung berapi setelah letusan dahsyat. Ketua Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG) Kabupaten Bondowoso, Tantri Raras Ningtyas, menjelaskan bahwa kaldera ini tercipta akibat letusan tektonik yang luar biasa di zaman purba. Perkiraan PHIG menyebutkan bahwa gunung Ijen Purba dahulunya menjulang hingga ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut (Mdpl) dengan diameter mencapai 18 kilometer, sebelum akhirnya meletus pada periode antara 300 ribu hingga 100 ribu tahun yang lalu.
Letusan dahsyat itu, menurut Tantri, tidak hanya menciptakan cekungan raksasa, tetapi juga melahirkan 22 “anak gunung” baru di sekitarnya. Yang menarik, Gunung Ijen yang kita kenal sekarang, dengan kawah api birunya yang ikonik, merupakan “si bungsu” yang terbentuk dari rangkaian peristiwa geologi pasca-letusan dahsyat gunung purba tersebut. Saat material gunung api Ijen Purba dimuntahkan dengan volume yang masif, terjadi kekosongan rongga di bawahnya, menyebabkan struktur puncak gunung mengalami amblesan dan membentuk cekungan besar. Proses erosi dan longsor yang berkelanjutan kemudian turut memperluas area cekungan Kaldera ini dari waktu ke waktu.
Dari pengamatan citra topografi terkini, dapat dilihat bahwa area Kaldera Ijen Purba membentang seluas sekitar 220 kilometer persegi, dengan diameter yang bervariasi antara 15 hingga 20 kilometer. Volume material muntahan letusan Ijen Purba diperkirakan mencapai 70 kilometer kubik, yang menyebar dengan kemiringan landai sejauh 27 hingga 30 kilometer ke arah barat laut, utara, dan timur laut, bahkan hingga mencapai wilayah Situbondo. Ini menunjukkan skala letusan yang luar biasa, membentuk lanskap regional secara drastis dan meninggalkan jejak geologi yang monumental.
Fenomena Kaldera Ijen Purba ini tidak sekadar menjadi bukti dahsyatnya kekuatan alam di masa lalu, melainkan juga sebuah laboratorium geologi hidup. Kawasan ini mengalami proses geologi yang sangat kompleks dan berkelanjutan, menjadikannya memiliki kekhasan geologi yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti dan pengamat bumi. Hidup di tengah “wajan raksasa” ini, masyarakat Kecamatan Ijen telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang unik, menyatu dengan warisan purba yang membentuk lanskap dan kehidupan mereka. Keunikan geologi ini berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat studi kebumian, destinasi geoturisme berkelanjutan, dan pengingat akan keagungan serta dinamika bumi yang tak pernah berhenti.
Baca Juga :  Mayjen Arief Gajah Mada Resmi Jadi Pangdam XX/Tuanku Imam Bonjol, Berikut Profilnya

Berita Terkait

Fitrayanto S.E. Ucapkan Selamat HPN 2026 dan HUT ke-4 Faktasumbar
Anggota DPRD Lima Puluh Kota Siska Ucapkan Selamat HPN 2026 dan HUT ke-4 Faktasumbar
Demokrat Tegaskan Langkah Hukum Bukan Anti-Kritik, Jemmy Setiawan: Ini Pendidikan Politik, Bukan Pembiaran Fitnah
Sekuel Kedua “Dirty Vote o3” Dirilis Hari Ini: Membaca Kartu Politik Oligarki lewat “Otot, Otak, Ongkos”
“Saya Hanya Punya Ibu”: Jeritan Hati Seorang Anak Bernama Zahira agar Sang Ibu Tak Dideportasi
Jelang Muktamar X, PPP Payakumbuh Harap Ketum Baru Bawa Partai Comeback ke Senayan
Kementerian ATR-BPN dan Pemkot Dorong Pendaftaran Tanah Ulayat Adat
Fenomena Blood Moon, Ini Penjelasan Peneliti BRIN

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 12:44 WIB

Fitrayanto S.E. Ucapkan Selamat HPN 2026 dan HUT ke-4 Faktasumbar

Rabu, 28 Januari 2026 - 12:32 WIB

Anggota DPRD Lima Puluh Kota Siska Ucapkan Selamat HPN 2026 dan HUT ke-4 Faktasumbar

Jumat, 9 Januari 2026 - 23:03 WIB

Demokrat Tegaskan Langkah Hukum Bukan Anti-Kritik, Jemmy Setiawan: Ini Pendidikan Politik, Bukan Pembiaran Fitnah

Minggu, 19 Oktober 2025 - 20:44 WIB

Sekuel Kedua “Dirty Vote o3” Dirilis Hari Ini: Membaca Kartu Politik Oligarki lewat “Otot, Otak, Ongkos”

Jumat, 26 September 2025 - 13:13 WIB

“Saya Hanya Punya Ibu”: Jeritan Hati Seorang Anak Bernama Zahira agar Sang Ibu Tak Dideportasi

Berita Terbaru

Payakumbuh

Capt. Harmen: Pers Harus Jadi Penjaga Akal Sehat Bangsa

Selasa, 3 Feb 2026 - 16:39 WIB

Lima Puluh Kota

Alia Efendi: Pers Harus Berdiri Tegak, Bukan Sekadar Menyampaikan

Senin, 2 Feb 2026 - 10:49 WIB