Indonesia “Termiskin Kedua”: APBN, APBD, dan Dosa Kebijakan yang Terstruktur

- Editor

Kamis, 15 Januari 2026 - 11:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

Oleh: Wahyudi Thamrin, S.H., M.H.

Pernyataan Bank Dunia yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk miskin terbesar kedua berdasarkan standar negara berpendapatan menengah ke atas bukan sekadar alarm ekonomi. Ini adalah vonis keras atas arah kebijakan fiskal dan politik anggaran negara yang gagal menyentuh jantung persoalan rakyat.

Jika di tengah triliunan rupiah APBN dan APBD, rakyat masih terhimpit kebutuhan dasar, maka persoalannya bukan pada kurangnya dana, melainkan salah prioritas dan cacat keberpihakan. Anggaran telah berubah menjadi instrumen kekuasaan, bukan alat keadilan sosial.

Dalih klasik bahwa “ekonomi tetap tumbuh” kini kehilangan makna moral. Pertumbuhan yang tidak menurunkan beban hidup rakyat adalah pertumbuhan semu. Ia hanya menguntungkan segelintir elite ekonomi, sementara mayoritas rakyat dipaksa bertahan hidup dalam standar minimum yang terus menurun.

Di daerah seperti Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota, wajah kegagalan itu terlihat jelas. Pasar rakyat melemah, UMKM hidup segan mati tak mau, petani tidak memiliki perlindungan harga, dan tenaga kerja lokal tersingkir oleh sistem ekonomi yang tidak adil. Namun anehnya, setiap tahun anggaran tetap disahkan tanpa evaluasi serius atas dampak sosialnya.

Baca Juga :  Bupati Safni Komit Sikat Oknum Penyeleweng Pupuk Bersubsidi

Lebih berbahaya lagi, anggaran publik kerap habis untuk belanja rutin, seremoni, proyek fisik tanpa daya ungkit, dan program populis jangka pendek. Sementara ekonomi rakyat yang seharusnya menjadi prioritas utama hanya mendapat sisa kebijakan.

Dalam perspektif hukum tata negara, ini bukan lagi sekadar kesalahan teknis. Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945 mewajibkan negara hadir secara aktif dalam mengatur perekonomian dan melindungi rakyat miskin. Ketika kewajiban ini diabaikan, maka yang terjadi adalah kelalaian konstitusional.

Momentum politik dan pembahasan anggaran seharusnya menjadi titik balik. DPR, DPRD, dan pemerintah baik pusat maupun daerah wajib menjawab satu pertanyaan mendasar: untuk siapa anggaran disusun? Jika jawabannya tidak jelas berpihak pada rakyat kecil, maka legitimasi politik itu sendiri patut dipertanyakan.

Baca Juga :  Rektor Universitas Dharma Andalas Prof. Dr.  Novesar Jamarun.MS. Terima Penghargaan “Indonesia Best Innovation Excellent Award 2025”

Bank Dunia mungkin hanya menyajikan data. Tetapi data itu telah membuka fakta yang tidak bisa lagi ditutup dengan retorika. Kemiskinan hari ini bukan kecelakaan, melainkan hasil dari kebijakan yang disengaja atau dibiarkan.

Jika elite politik tetap menjadikan anggaran sebagai alat kompromi kepentingan, maka rakyat akan terus membayar mahal. Dan pada titik tertentu, yang runtuh bukan hanya ekonomi, tetapi kepercayaan publik terhadap negara dan demokrasi itu sendiri.

Momentum politik dan anggaran ini harus dipilih:

berpihak pada rakyat atau bersiap dicatat sejarah sebagai bagian dari kegagalan.

Berita Terkait

Kecelakaan Maut PNS Payakumbuh di Dharmasraya, Disiplin Jam Kerja Ikut Jadi Pertanyaan
Firdaus Pimpin Team 212 FC Asal Padang Pariaman di Tigo Kayo Cup I, Targetkan Penampilan Maksimal
Tragedi Puncak Robo dan Alarm Keras bagi Pemkab Limapuluh Kota: Pariwisata Bukan Sekadar Promosi
Emas Pertama Gulat Sawahlunto Dibayar Air Mata Juan Bachdim, Sang Ayah Berpulang Saat Bertanding
Kilau Medali di Leher Para Juara, Anandya Dipo Pratama Apresiasi Atlet Akuatik Porprov XVI
Tenis Meja Payakumbuh Tantang Dharmasraya di Final Porprov Sumbar
Nayya Ayudia Khansa Jadi Mesin Emas, Antarkan Panahan Payakumbuh Juara Umum Porprov Sumbar
Beni Murdani Apresiasi Emas Pertama Limapuluh Kota, Adelia Darmawati Ukir Prestasi di Taekwondo

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:06 WIB

Kecelakaan Maut PNS Payakumbuh di Dharmasraya, Disiplin Jam Kerja Ikut Jadi Pertanyaan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:57 WIB

Firdaus Pimpin Team 212 FC Asal Padang Pariaman di Tigo Kayo Cup I, Targetkan Penampilan Maksimal

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 16:11 WIB

Tragedi Puncak Robo dan Alarm Keras bagi Pemkab Limapuluh Kota: Pariwisata Bukan Sekadar Promosi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:51 WIB

Emas Pertama Gulat Sawahlunto Dibayar Air Mata Juan Bachdim, Sang Ayah Berpulang Saat Bertanding

Kamis, 8 Oktober 2026 - 01:00 WIB

Kilau Medali di Leher Para Juara, Anandya Dipo Pratama Apresiasi Atlet Akuatik Porprov XVI

Berita Terbaru