LIMA PULUH KOTA — Pagi itu, langit di atas Lembah Harau tampak begitu cerah. Cahaya matahari memantul di dinding-dinding batu granit yang menjulang tinggi, sementara gemericik air dari Sarasah Bunta terus mengalir, menyambut setiap langkah pengunjung yang datang menikmati keindahan alam.
Namun, Jumat (31/7/2026) pagi itu menghadirkan pemandangan yang sedikit berbeda. Puluhan kader Partai Demokrat dengan seragam biru tidak datang untuk berwisata atau sekadar berfoto. Mereka datang membawa kantong sampah, sarung tangan, dan semangat gotong royong. Satu per satu sampah plastik, botol minuman, hingga bungkus makanan yang tercecer di sudut-sudut kawasan wisata dipungut dan dikumpulkan.
Bagi mereka, menjaga Harau bukan hanya soal membersihkan sampah. Lebih dari itu, aksi tersebut adalah bentuk penghormatan kepada alam yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Lima Puluh Kota sekaligus salah satu wajah pariwisata Sumatera Barat.
Kegiatan itu merupakan bagian dari Gerakan Langit Biru Indonesia Asri, program nasional Partai Demokrat yang digelar serentak di berbagai daerah. Di Kabupaten Lima Puluh Kota, aksi tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia serta Hari Ulang Tahun ke-25 Partai Demokrat yang akan diperingati pada 9 September 2026.
Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Lima Puluh Kota, Syamsuwirman, hadir langsung memimpin kegiatan bersama anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota, Prima Maifirson, Andri Helmiadi, Dodi Arestu, Yakubis, serta puluhan kader lainnya. Tidak ada sekat jabatan di antara mereka. Semua larut dalam semangat yang sama, memungut sampah, menyapu jalan setapak, dan memastikan kawasan wisata tetap bersih bagi setiap pengunjung.
Di sela kegiatan, Syamsuwirman mengatakan bahwa Gerakan Langit Biru Indonesia Asri merupakan komitmen nyata yang digagas Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Menurutnya, tantangan menjaga alam tidak bisa dibebankan kepada pemerintah semata. Dibutuhkan kesadaran kolektif bahwa bumi yang bersih adalah warisan yang harus dijaga bersama.
“Gerakan Langit Biru Indonesia Asri bertujuan menjaga kebersihan lingkungan, melestarikan alam, sekaligus memperkuat semangat gotong royong sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan Indonesia,” ujar Syamsuwirman.
Ia menjelaskan, gerakan tersebut dilaksanakan secara rutin setiap hari Jumat oleh seluruh jajaran Partai Demokrat di Indonesia. Di Sumatera Barat, aksi serupa pada hari yang sama juga berlangsung di Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Kabupaten Pasaman.
Bagi Sekretaris Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota, Prima Maifirson, memilih Harau sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Harau bukan sekadar objek wisata, tetapi juga simbol kebanggaan daerah yang harus dijaga keindahannya.
Ia percaya bahwa kepedulian terhadap lingkungan selalu dimulai dari tindakan kecil. Memungut selembar sampah mungkin tampak sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama, dampaknya akan menjadi besar.
“Harau adalah kebanggaan kita bersama. Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi. Kami berharap masyarakat ikut menumbuhkan kesadaran bahwa kebersihan adalah tanggung jawab kita semua,” katanya.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, aksi sederhana seperti memungut sampah sering kali dianggap remeh. Padahal, dari tindakan kecil itulah lahir pesan besar: mencintai alam bukan cukup diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan.
Ketika kantong-kantong sampah mulai penuh dan kawasan Sarasah Bunta kembali tampak bersih, bukan hanya lingkungan yang terasa lebih indah. Ada harapan yang ikut tumbuh, bahwa semangat gotong royong dan kepedulian terhadap alam masih hidup di tengah masyarakat.
Sebab pada akhirnya, menjaga Lembah Harau bukan hanya tentang merawat destinasi wisata. Ini adalah upaya menjaga warisan alam agar tetap lestari, sehingga anak cucu kelak masih dapat menikmati birunya langit, kokohnya tebing batu, dan sejuknya udara Harau seperti yang kita rasakan hari ini.(rio)









