PADANG — Pegulat muda Kota Sawahlunto, Juan Bachdim (15), mencetak sejarah pada ajang Porprov XVI Sumatera Barat 2026. Ia berhasil merebut medali emas kelas kadet 51 kilogram, sekaligus mempersembahkan medali emas pertama bagi cabang olahraga gulat Sawahlunto dalam sekitar dua dekade.
Namun, kemenangan tersebut harus dibayar dengan air mata. Di saat Juan berjuang di atas matras untuk mengharumkan nama daerahnya, sang ayah justru berpulang untuk selama-lamanya.
Juan bertanding di G Sport Center Gunung Pangilun, Padang, Rabu (7/10/2026). Sejak awal pertandingan, ia berusaha menjaga fokus meski tengah menghadapi kabar duka yang sangat berat.
Kabar meninggalnya sang ayah diterima keluarga pada Selasa (6/10/2026) malam sekitar pukul 21.30 WIB. Sebelum mengembuskan napas terakhir, sang ayah disebut sempat berpesan agar kabar kepergiannya tidak disampaikan kepada Juan terlebih dahulu.
Tujuannya agar Juan tidak kehilangan konsentrasi menghadapi pertandingan penting di Porprov Sumbar.
Namun, sang abang akhirnya memberitahukan kabar tersebut kepada Juan. Dalam kondisi hati yang hancur, Juan memilih tetap bertanding dan menyelesaikan perjuangannya di arena.
Pesan terakhir sang ayah sebelum Juan berangkat ke Porprov terus menjadi pegangan bagi atlet muda tersebut.
Pesan itu seolah menjadi kekuatan bagi Juan. Ia mampu menuntaskan laga semifinal menghadapi Dharmasraya dengan cepat.
Pada partai final, Juan kembali tampil gemilang. Menghadapi pegulat Kabupaten Padang Pariaman, ia berhasil meraih kemenangan dan memastikan medali emas untuk Sawahlunto.
Sorak kemenangan pun pecah di G Sport Center. Namun, suasana bahagia itu tidak berlangsung lama.
Usai pertandingan, Juan menyaksikan prosesi pemakaman ayahnya melalui sambungan video call. Di layar ponsel, ia melihat jenazah sang ayah yang akan segera dimakamkan.
Tangis Juan pun pecah. Didampingi pelatih Asrijal, pegulat muda tersebut tidak mampu lagi membendung kesedihannya. Isak tangisnya membuat suasana di sekitar arena yang sebelumnya dipenuhi kegembiraan berubah menjadi haru.
Medali emas yang baru saja diraihnya akhirnya menjadi persembahan terakhir Juan untuk sang ayah.
Melihat kondisi Juan, Herlambang, Dewan Wasit Internasional dari PB PGSI, turut menghampiri dan memberikan dukungan. Ia berpesan agar Juan terus menjaga semangat dan mengembangkan kemampuannya hingga kelak mampu menjadi juara dunia.
Karena Juan harus segera pulang untuk mengantarkan sang ayah, prosesi pengalungan medali kemudian dipercepat.
Ketua KONI Sawahlunto, H. Jhon Reflita, mengalungkan medali emas kepada Juan dengan penuh haru. Selain memberikan apresiasi, Jhon Reflita juga menyerahkan bonus pribadi kepada sang juara muda.
Tidak hanya itu, Ketua KONI Sawahlunto tersebut juga menyampaikan komitmennya untuk membantu menanggung biaya pendidikan adik Juan, Bintang, yang masih berusia 10 tahun, agar kelak dapat mengikuti jejak sang kakak menimba ilmu di PPLP Sumbar.

Bagi Kota Sawahlunto, kemenangan Juan memiliki arti penting. Setelah sekitar dua dekade cabang olahraga gulat berkembang di daerah tersebut, akhirnya medali emas pertama berhasil dipersembahkan pada ajang Porprov Sumbar.
Namun bagi Juan, emas tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Medali itu menjadi persembahan untuk ayah tercintanya yang telah berpulang.
Didampingi sang adik, Bintang, dan pelatih Robi Andoni, Juan kemudian meninggalkan arena Porprov dan bertolak menuju Sawahlunto.
Ia pulang bukan untuk merayakan kemenangan dengan pesta, melainkan untuk mengantarkan sang ayah ke tempat peristirahatan terakhir.
Emas pertama gulat Sawahlunto akhirnya berada di tangan Juan Bachdim. Sebuah medali yang lahir dari perjuangan, kehilangan dan air mata seorang anak yang tetap berdiri di atas matras ketika hatinya sedang berduka.(rio)









