Oleh: Wahyudi Thamrin
Hari ini, Kamis 1 Januari 2026, udara di seantero negeri terasa berbeda. Di bawah langit awal tahun, kita tidak sekadar merayakan pergantian kalender, tetapi menyaksikan sebuah fragmen kehidupan yang menggetarkan jiwa. Ribuan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu resmi dilantik dan diambil sumpahnya.
Ini bukan sekadar seremoni administratif di atas kertas bermaterai. Ini adalah kemenangan sebuah kesabaran.
Bagi ribuan jiwa itu, surat keputusan (SK) yang digenggam erat bukan hanya selembar dokumen negara. Ia adalah jawaban atas doa-doa panjang yang dipanjatkan di ujung sajadah, di sela-sela lelahnya mengabdi bertahun-tahun dalam ketidakpastian.
Pemandangan di halaman balai kota dan kantor bupati hari ini sungguh menguras air mata. Kita disuguhi momen-momen yang tak bisa dibeli dengan uang: seorang istri menyeka air mata haru di pipi suaminya, anak-anak kecil memeluk kaki ayahnya dengan mata berbinar, bangga pada seragam baru yang dikenakan.
Bagi mereka, pelantikan ini adalah Lebaran yang datang lebih awal. Tangis haru keluarga dan sanak saudara yang berbondong-bondong hadir menjadi saksi bahwa pengabdian tulus selama ini tidak pernah sia-sia. Penantian panjang itu akhirnya berbuah manis, menghapus kenangan pahit tentang gaji yang sering terlambat dan status yang kerap dipandang sebelah mata.
Namun, di balik kegembiraan yang meluap, tersimpan beban mulia di pundak mereka. Pelantikan serentak ini adalah wujud kepercayaan negara. Pemerintah tidak hanya memberi kepastian status, tetapi menitipkan wajah pelayanan publik kepada ribuan tangan baru ini.
Amanah itu berat. Integritas dan dedikasi menjadi harga mati. Negara percaya bahwa PPPK Paruh Waktu memiliki semangat pengabdian yang lebih “haus” untuk membuktikan kualitas diri di hadapan masyarakat. Mereka diharapkan menjadi penggerak birokrasi yang lebih segar, lebih lincah, dan yang terpenting lebih melayani.
Selamat kepada rekan-rekan PPPK Paruh Waktu. Ingatlah, jabatan ini hanyalah titipan, tetapi jejak kebaikan yang ditorehkan akan menjadi warisan. Teruskan pengabdian dengan semangat yang tak pernah padam. Jadilah teladan di tengah masyarakat bahwa integritas adalah mata uang yang berlaku di mana pun.
Kepada anak, istri, dan keluarga yang hari ini ikut menangis bangga: merekalah saksi bisu dari perjuangan panjang ini. Kini, biarkan mereka bekerja dengan tenang.
Selamat mengabdi untuk bangsa dan negara. Semoga amanah ini dijalankan dengan hati, bukan semata mengejar materi. (*)









