PAYAKUMBUH – Kabut asap tebal yang menyelimuti Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota dalam beberapa hari terakhir mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Selain mengurangi jarak pandang, kondisi udara yang memburuk juga memicu keluhan kesehatan, mulai dari mata perih, tenggorokan gatal hingga sesak napas.
Pantauan pada Sabtu (17/10/2026), asap membuat pemandangan di sejumlah wilayah tampak kabur. Bahkan, sinar matahari pada siang hari terlihat kemerahan akibat tertutup lapisan asap dan partikel di atmosfer.
Kondisi ini membuat masyarakat khawatir terhadap dampak paparan asap, terutama bagi pengendara sepeda motor, pengguna jalan, anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Sejumlah warga mengaku mulai membatasi aktivitas di luar rumah untuk mengurangi paparan asap secara langsung.
“Mata terasa sangat perih kalau berkendara dan tenggorokan cepat sakit. Suasana udara juga makin kabur dari pagi sampai siang,” ujar seorang pengguna jalan di Payakumbuh, Ujang, Sabtu (17/10/2026).
Kabut asap yang menyelimuti Payakumbuh dan Limapuluh Kota diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Riau dan Jambi. Namun, sumber serta pergerakan asap yang mencapai kedua daerah tersebut masih memerlukan konfirmasi berdasarkan data pemantauan terkini.
Informasi yang disebut bersumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan sejumlah wilayah di Sumatera Barat, termasuk Limapuluh Kota dan Bukittinggi, berpotensi mengalami udara kabur akibat asap karhutla regional.
Meski demikian, kondisi kualitas udara di masing-masing wilayah perlu dipastikan melalui hasil pemantauan resmi agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat mengenai tingkat pencemaran dan risiko kesehatannya.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih pekat. Jika harus beraktivitas di luar rumah, warga disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus, membatasi kegiatan fisik berat, serta menutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke dalam rumah.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan, perlu mendapat perhatian khusus karena lebih berisiko mengalami dampak pencemaran udara.
Warga yang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pernapasan yang memburuk disarankan segera mencari pertolongan medis.
Masyarakat juga diharapkan mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, perkembangan karhutla, serta imbauan dari BMKG dan instansi terkait.
Jika kabut asap terus bertahan, pemantauan kualitas udara dan penyampaian informasi yang terbuka menjadi penting agar masyarakat dapat mengambil langkah perlindungan secara tepat.(rio)









