LIMA PULUH KOTA – Kondisi kualitas udara di Kabupaten Lima Puluh Kota dilaporkan memburuk pada Senin pagi, 7 September 2026. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota, Prima Maifirson. Ia meminta Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota segera menyiapkan langkah-langkah antisipasi apabila kualitas udara terus mengalami penurunan.
Menurut Prima, kualitas udara yang tidak sehat berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara dan gangguan pernapasan.
“Kondisi ini harus menjadi perhatian serius. Kualitas udara yang tidak sehat tentu memiliki risiko terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia dan masyarakat yang sensitif terhadap polusi udara,” ujar Prima.
Ia mengatakan, pemerintah daerah perlu mengambil langkah cepat dan terukur untuk melindungi masyarakat apabila kondisi kabut asap semakin memburuk. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan, kata dia, adalah penerapan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) serta pembelajaran secara daring bagi siswa.
Menurutnya, kebijakan tersebut dapat menjadi pilihan apabila hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara telah berada pada kondisi yang membahayakan kesehatan masyarakat.
“Kami mendorong Pemkab Lima Puluh Kota menyiapkan langkah antisipasi, termasuk WFH bagi aparatur dan pembelajaran daring bagi siswa apabila kondisi udara terus memburuk,” katanya.
Selain mendorong langkah kebijakan dari pemerintah daerah, Prima juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan perlindungan diri selama kabut asap masih terjadi. Warga diminta membatasi aktivitas di luar rumah, terutama pada kelompok rentan, serta menggunakan masker yang sesuai saat harus beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela apabila asap semakin pekat. Anak-anak, lansia, ibu hamil dan warga yang memiliki gangguan pernapasan diharapkan mengurangi paparan asap dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, iritasi mata atau gangguan kesehatan lainnya.
Prima menegaskan, pemerintah daerah perlu memperkuat pemantauan kualitas udara sekaligus menyampaikan informasi yang jelas dan terkini kepada masyarakat mengenai kondisi udara serta langkah-langkah perlindungan yang harus dilakukan.
Menurutnya, masyarakat juga perlu mendapatkan informasi secara cepat apabila kualitas udara telah memasuki kategori yang berisiko terhadap kesehatan, sehingga warga dapat mengambil langkah pencegahan sejak dini.
“Yang paling penting adalah keselamatan dan kesehatan masyarakat. Pemerintah harus hadir, memberikan informasi yang jelas kepada warga dan mengambil langkah antisipasi sebelum kondisi semakin buruk,” pungkasnya.(rio)









