Limapuluh Kota || Destinasi wisata alam Bukik Nyunyuang di Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota, yang belakangan viral di media sosial, kini menuai sorotan publik. Sejumlah pengunjung mengaku merasa tidak nyaman dengan perilaku sebagian remaja yang dinilai melampaui batas kepantasan di ruang publik.
Keluhan tersebut ramai disampaikan melalui media sosial. Pengunjung menyebut adanya aktivitas berpelukan, pangku-pangkuan, hingga berduaan di semak-semak di area puncak bukit, bahkan masih terjadi menjelang waktu Magrib.
“Banyak anak-anak sekolah pacaran di Nyunyuang, min. Miris, lah Magrib masih di situnyo,” tulis salah seorang netizen.
Sejumlah masyarakat menilai, fenomena tersebut tidak sejalan dengan norma sosial dan adat Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai kesopanan, rasa malu (malu jo sopan), serta penghormatan terhadap ruang publik.
Dalam nilai adat Minangkabau, ruang terbuka yang digunakan bersama terutama yang berada di wilayah nagari dipandang sebagai ruang bermartabat yang harus dijaga perilakunya.
Ungkapan adat “di mana bumi dipijak, di situ langik dijunjuang” menjadi prinsip utama dalam bersikap di lingkungan sosial.
“Bukik Nyunyuang itu ruang umum, bukan tempat privat. Kalau perilaku di ruang publik sudah membuat orang lain risih, itu jelas bertentangan dengan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” tulis netizen lainnya.
Beberapa pengunjung mengaku datang bersama keluarga dan anak-anak, sehingga merasa terganggu dengan perilaku yang dinilai tidak pantas tersebut.
“Ado nan peluk-peluk, ado nan pangku-pangkuan dalam somak. Agak risih se mancaliaknyo,” tulis akun lain.
Netizen juga mengusulkan agar ada batasan jam kunjungan, khususnya menjelang sore hari. “Harusnyo ado batas kunjungan sampai jam 5 sore,” tulis salah satu komentar.
Bukik Nyunyuang dikenal memiliki panorama alam yang indah dan baru berkembang sebagai destinasi wisata. Namun sebagian masyarakat khawatir, ketiadaan aturan dan pengawasan dapat merusak citra lokasi tersebut.
“Sangat disayangkan. Tampek rancak baru viral lah jadi kek gitu. Mudah-mudahan dibenahi,” tulis netizen lainnya.
Dalam konteks Minangkabau, rusaknya citra suatu tempat bukan hanya berdampak pada pariwisata, tetapi juga nama baik nagari dan masyarakat setempat.
Masyarakat berharap adanya peran aktif pemerintah nagari, niniak mamak, pemuda, serta pengelola wisata untuk melakukan penataan, antara lain:
Penetapan jam kunjungan yang jelas, pemasangan imbauan etika berkunjung berbasis nilai adat, Pengawasan persuasif demi menjaga kenyamanan bersama.
Langkah tersebut dinilai penting agar Bukik Nyunyuang tetap menjadi destinasi wisata alam yang ramah keluarga, bermartabat, dan selaras dengan nilai adat Minangkabau.
“Jangan sampai baru viral, tapi rusak secara sosial karena abai pada norma,” tulis salah seorang netizen menutup komentarnya.(rio)









